Jumat, 22 April 2011

Bahan Pembuat Kompos di Sekitar Kita


Ada begitu banyak bahan disekitar kita yang bisa diolah menjadi kompos. Salah satunya rumput-rumput yang tumbuh subur di belakang rumah saya ini.


Kebun belakang ini sudah lama tidak diurus. Hanya ada tanaman singkong yang tumbuh. Rumputnya, banyaaaakkk sekali. Kalau dibuat kompos bisa dapat berapa karung ya... ^^



Selain rumput, daun-daun kering dari pepohonan juga bisa diolah menjadi kompos. Daun-daun kering ini sebagai bahan campuran dari rumput yang hijau. Syarat pembuatan kompos adalah bahan yang hijau dan yang coklat harus sama.


Dalam membuat kompos bahan daun hijau dan daun kering harus dipotong-potong. Kata Pak Sobirin bagusnya maksimal 3 cm, supaya proses pengomposan berlangsung cepat. Jangan lupa tambahkan MOL (MOL buatan sendiri) sebagai starternya.... Setelah bahan dicampur dengan MOL, masukkan ke dalam komposter. Tiap 3 hari sekali, kompos diaduk, tambahkan MOL (secukupnya saja, jangan terlalu basah).


Hari ke-3 kompos dalam komposter akan terasa panas, tandanya mikro organisme sedang bekerja mengurai bahan menjadi kompos. Biasanya proses ini akan berlangsung selama satu bulan. Minggu pertama temperature naik, sampai 60 derajat lebih, minggu kedua mulai menurun dan warna telah berubah coklat kehitaman, minggu ketiga mulai mendingin, dan minggu keempat sudah bisa dipanen.
Selengkapnya...

Saatnya Membuat MOL


Sebelum membuat kompos, siapkan dulu MoL-nya. Apa itu MoL ? MoL adalah singkatan dari Mikroorganisme Lokal. MoL ini nantinya digunakan sebagai starter pembuatan kompos. Fungsinya untuk mempercepat proses pengomposan karena MoL banyak mengandung bakteri pengurai yang bisa membantu proses pengomposan.


Cara Membuat Mikroorganisme Lokal (MoL)

Sebenarnya MoL bisa dibuat dari apa saja yang bisa membusuk. Seperti nasi basi, nenas busuk, tempe busuk, sisa sayur kemarin, dll. Hanya saja saat ini kita coba membuat MoL dari tapai atau peuyeum. Berikut langkah-langkah membuat MoL dari tapai yang saya salin dari blognya pak Sobirin.

Pertama, siapkan botol plastik air minum kemasan ukuran besar (1.500 mililiter). Cukup satu botol kosong saja, tidak usah dengan tutupnya.
Kedua, beli tapai atau peuyeum, sedikit saja, soalnya butuhnya juga hanya 1 ons, lalu masukkan dalam botol tadi.
Ketiga, isikan air dalam botol yang telah berisi tapai atau peuyeum tadi. Tidak usah penuh, cukup hampir penuh.
Keempat, masukkan gula ke dalam botol yang telah diisi tapai atau peyeum dan air tadi. Bisa gula pasir atau gula merah, 5 sendok makan.
Kelima, kocok-kocok sebentar agar gula melarut.
Keenam, biarkan botol terbuka tidak ditutup selama 4 atau 5 hari. Selanjutnya, selamanya botol tidak ditutup, biar MOL-nya bisa bernafas.
Ketujuh, setelah 5 hari, dan kalau dicium akan berbau wangi alkohol, maka MOL telah bisa dipakai.
Kedelapan, kalau ingin ”beternak” MOL, maka ambillah botol kosong yang sejenis, lalu bagilah MOL dari botol yang satu ke botol kedua. Separoh-separoh. Lalu isikanlah air ke dalam botol-botol tadi sampai hampir penuh, dan kemudian masukanlah gula ke masing-masing botol dengan takaran seperti di atas. Maka kita punya 2 botol MOL. Bila ingin memperbanyak lagi ke dalam botol-botol yang lain, lakukanlah dengan cara yang sama.


Selamat mencoba ^^ Selengkapnya...

Selasa, 19 April 2011

Beragam Model Komposter


Di pasaran ada banyak jenis komposter untuk skala rumah tangga. Ada yang dibuat dari tong atau drum plastik, dari keranjang, bahkan yang dibuat khusus dari pelat baja. Harganya pun bermacam-macam, mulai dari 100,000,- sampai jutaan!

Sebenarnya, komposter-komposter itu sangat mudah dibuat. Jangan yang susah-susah, sederhana saja. Yang penting syarat penting terjadinya proses pengomposan bisa terpenuhi. Misalnya untuk proses pengomposan secara aerob, maka pada komposter harus terdapat lubang-lubang udara untuk sirkulasi udara. Kalau proses pengomposannya secara anaerob, maka komposter harus tertutup rapat. Gak boleh ada lubang sedikit pun.

Bahan yang akan dikomposkan dengan dua cara itu pun ada perbedaannya, walau sedikit. Misalnya untuk yang aerob, tidak boleh ada bahan-bahan seperti nasi basi, ikan, daging, telur, ampas kelapa, dan sejenisnya yang bisa mengundang belatung, lalat, tikus dan kecoak! Sementara untuk yang anaerob, semua bahan bisa diolah menjadi kompos.

Jadi, tinggal pilih mau komposter aerob atau anaerob. Yang penting syaratnya terpenuhi.
Selengkapnya...

Senin, 18 April 2011

Ajakan "Zerowaste" Pak Sobirin


Anda mungkin sudah kenal dengan Pak Sobirin yang mempunyai web blog http://clearwaste.blogspot.com/, dengan slogan "Sampah Diolah Menjadi Berkah" dan "Zerowaste"-nya. Isinya adalah ajakan untuk mengolah sampah rumah tangga menjadi barang-barang berguna seperti sampah dapur diolah kompos, dan sampah lainnya dibuat aneka kreasi krejainan tangan. Pokoknya prinsip Pak Sobirin adalah "Rumah tanpa sampah", yaitu rumah yang tidak membuang sampah keluar.



Membaca cerita 'perjuangan' Pak Sobirin dalam mewujudkan zero waste, membuat saya juga tertarik untuk membuat kompos. Secara, keluarga saya punya banyak sekali sampah dapur karena memang kami memiliki sebuah warung makan, yang walaupun kecil punya sampah yang bisa mencapai sekarung saban harinya. Jadi, saya pun menjelajah isi blog Pak Sobirin dan searching di google langkah-langkah membuat kompos.


Karena sampah organik basah dan organik hewani saya dua-duanya banyak, maka saya akan mencoba keduanya sekaligus. Yakni pengomposan dengan sistem aerob dan anaerob.

Bismillah... mudah-mudahan terlaksana dengan baik. Nanti pada postingan berikutnya saya akan uraikan step by step membuat komposternya. Sepertinya saya memerlukan drum plastik yang cukup besar...
Selengkapnya...